Jumat, 22 Januari 2016

Lumpur Panas



Tujuan penulisan : 
1.      Menjelaskan hal-hal yang terjadi saat peristiwa lumpur lapindo
2.      Menjelaskan penyebab dan kronologi kejadian lumpur lapindo 
3.      Menjelaskan tentang lokasi
4.      Menjelaskan dampak negative dan positif lumpur lapindo
5.      Dan upaya penangulangan lumpur lapindo


Banjir lumpur panas Sidoarjo

Banjir lumpur panas Sidoarjo, juga dikenal dengan sebutan Lumpur Lapindo  adalah peristiwa menyemburnya lumpur panas di lokasi pengeboran Lapindo Brantas Inc. di Dusun Balongnongo Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia, sejak tanggal 29 Mei 2006. Semburan lumpur panas selama beberapa bulan ini menyebabkan tergenangnya kawasan permukiman, pertanian, dan perindustrian di tiga kecamatan di sekitarnya, serta memengaruhi aktivitas perekonomian di Jawa Timur.
Diperkirakan bahwa Lapindo, sejak awal merencanakan kegiatan pengeboran ini dengan membuat prognosis pengeboran yang salah. Mereka membuat prognosis dengan mengasumsikan zona pengeboran mereka di zona Rembang dengan target pengeborannya adalah formasi Kujung. Padahal mereka membor di zona Kendeng yang tidak ada formasi Kujung-nya. Alhasil, mereka merencanakan memasang casing setelah menyentuh target yaitu batu gamping formasi Kujung yang sebenarnya tidak ada. Selama mengebor mereka tidak meng-casing lubang karena kegiatan pemboran masih berlangsung. Selama pemboran, lumpur overpressure (bertekanan tinggi) dari formasi Pucangan sudah berusaha menerobos (blow out) tetapi dapat diatasi dengan pompa lumpur Lapindo. Setelah kedalaman 9.297 kaki, akhirnya mata bor menyentuh batu gamping. Lapindo mengira target formasi Kujung sudah tercapai, padahal mereka hanya menyentuh formasi Klitik. Batu gamping formasi Klitik sangat porous (berlubang-lubang). Akibatnya lumpur yang digunakan untuk melawan lumpur formasi Pucangan hilang (masuk ke lubang di batu gamping formasi Klitik) atau circulation loss sehingga Lapindo kehilangan/kehabisan lumpur di permukaan.
Akibat dari habisnya lumpur Lapindo, maka lumpur formasi Pucangan berusaha menerobos ke luar (terjadi kick). Mata bor berusaha ditarik tetapi terjepit sehingga dipotong. Sesuai prosedur standar, operasi pengeboran dihentikan, perangkap Blow Out Preventer (BOP) di rig segera ditutup dan segera dipompakan lumpur pengeboran berdensitas berat ke dalam sumur dengan tujuan mematikan kick. Kemungkinan yang terjadi, fluida formasi bertekanan tinggi sudah telanjur naik ke atas sampai ke batas antara open-hole dengan selubung di permukaan (surface casing) 13 3/8 inci. Di kedalaman tersebut, diperkirakan kondisi geologis tanah tidak stabil dan kemungkinan banyak terdapat rekahan alami (natural fissures) yang bisa sampai ke permukaan. Karena tidak dapat melanjutkan perjalanannya terus ke atas melalui lubang sumur disebabkan BOP sudah ditutup, maka fluida formasi bertekanan tadi akan berusaha mencari jalan lain yang lebih mudah yaitu melewati rekahan alami tadi dan berhasil. Inilah mengapa surface blowout terjadi di berbagai tempat di sekitar area sumur, bukan di sumur itu sendiri Perlu diketahui bahwa untuk operasi sebuah kegiatan pengeboran migas di Indonesia setiap tindakan harus seizin BPMIGAS, semua dokumen terutama tentang pemasangan casing sudah disetujui oleh BPMIGAS.

Lokasi
Lokasi semburan lumpur ini berada di Porong, yakni kecamatan di bagian selatan Kabupaten Sidoarjo, sekitar 12 km sebelah selatan kota Sidoarjo. Kecamatan ini berbatasan dengan Kecamatan Gempol (Kabupaten Pasuruan) di sebelah selatan.
Lokasi pusat semburan hanya berjarak 150 meter dari sumur Banjar Panji-1 (BJP-1), yang merupakan sumur eksplorasi gas milik Lapindo Brantas Inc sebagai operator blok Brantas. Oleh karena itu, hingga saat ini, semburan lumpur panas tersebut diduga diakibatkan aktivitas pengeboran yang dilakukan Lapindo Brantas di sumur tersebut. Pihak Lapindo Brantas sendiri punya dua teori soal asal semburan. Pertama, semburan lumpur berhubungan dengan kesalahan prosedur dalam kegiatan pengeboran. Kedua, semburan lumpur kebetulan terjadi bersamaan dengan pengeboran akibat sesuatu yang belum diketahui. Namun bahan tulisan lebih banyak yang condong kejadian itu adalah akibat pengeboran.
Lokasi semburan lumpur tersebut merupakan kawasan permukiman dan di sekitarnya merupakan salah satu kawasan industri utama di Jawa Timur. Tak jauh dari lokasi semburan terdapat jalan tol Surabaya-Gempol, jalan raya Surabaya-Malang dan Surabaya-Pasuruan-Banyuwangi (jalur pantura timur), serta jalur kereta api lintas timur Surabaya-Malang dan
Surabaya-Banyuwangi.

Volume Lumur
Berdasarkan beberapa pendapat ahli lumpur keluar disebabkan karena adanya patahan, banyak tempat di sekitar Jawa Timur sampai ke Madura seperti Gunung Anyar di Madura, “gunung” lumpur juga ada di Jawa Tengah (Bleduk Kuwu). Fenomena ini sudah terjadi puluhan, bahkan ratusan tahun yang lalu. Jumlah lumpur di Sidoarjo yang keluar dari perut bumi sekitar 100.000 meter kubik perhari, yang tidak mungkin keluar dari lubang hasil “pemboran” selebar 30 cm. Dan akibat pendapat awal dari WALHI maupun Meneg Lingkungan Hidup yang mengatakan lumpur di Sidoarjo ini berbahaya, menyebabkan dibuat tanggul di atas tanah milik masyarakat, yang karena volumenya besar sehingga tidak mungkin menampung seluruh luapan lumpur dan akhirnya menjadikan lahan yang terkena dampak menjadi semakin luas.
Semburan lumpur panas selama beberapa bulan setelah bencana ini, menyebabkan tergenangnya kawasan permukiman, pertanian, dan perindustrian di tiga kecamatan di sekitarnya, serta mengakibatkan gangguan aktivitas warga tersebut yang menyentuh berbagai aspek kehidupan: ekonomi, kesehatan, sosial, infrastruktur, lingkungan, dan lain-lain.
Dampak - dampak dari bencana lumpur panas bagi perkembangnya kehidupan manusia?
  • Bioakumulasi dalam jaringan lemak manusia (dan hewan)
  • Susah mendapatkan air bagi korban bencana tersebut
  • Kulit merah, iritasi, melepuh, dan kanker kulit jika kontak langsung dengan kulit
  • Kanker
  • Permasalahan reproduksi
  • Membahayakan organ tubuh seperti liver, paru-paru, dan kulit
  • Menghambat aktivitas masyarakat
  • Lumpur menggenangi 16 desa di tiga kecamatan yang membuat dievakuasinya warga setempat untuk diungsikan serta rusaknya areal pertanian.
  • Lahan dan ternak yang tercatat terkena dampak lumpur hingga Agustus 2006. (seperti: lahan tebu seluas 25,61 ha di Renokenongo, Jatirejo dan Kedungcangkring)
  • Sekitar 30 pabrik yang tergenang terpaksa menghentikan aktivitas produksi dan merumahkan ribuan tenaga kerja.
  • Empat kantor pemerintah juga tak berfungsi dan para pegawai juga terancam tak bekerja
  • Tidak berfungsinya sarana pendidikan (SD, SMP), Markas Koramil Porong, serta rusaknya sarana dan prasarana infrastruktur (jaringan listrik dan telepon)
  • Rumah/tempat tinggal dan tempat ibadah yang rusak akibat diterjang lumpur dan rusak
  • Kerusakan lingkungan terhadap wilayah yang tergenangi, termasuk areal persawahan
  • Akibat amblesnya permukaan tanah di sekitar semburan lumpur, pipa air milik PDAM Surabaya patah
  • Sebuah SUTET milik PT PLN dan seluruh jaringan telepon dan listrik di empat desa serta satu jembatan di Jalan Raya Porong tak dapat difungsikan
Dari beberapa dampak negative tersebut ,lumpur lapindo juga mempunyai dampak positif yaitu:
Munculnya penemuan yang luar biasa dari seorang mahasiswa Aji Christian Bani Adam, bersama tiga kawannya (Umarudin, Yoga Pratama dan Oki Prisnawan Dani) mengolah lumpur menjadi baterai ukuran AA. Lumpur yang yang berasal dari energi panas bumi dan juga terdapat unsur-unsur logam sehingga lumpur dapat dijadikan baterai. Karya yang disebut Lusi dry cell battery ini meraih juara kedua pada kompetisi Technopreneurship Pemuda 2012 yang diselenggarakan Kementerian Riset dan Teknologi di Graha Widya Puspiptek, Serpong, Tangerang. Aji dan kawan-kawannya mempresentasikan proposal ”Lusimart Usaha Pemasaran Lusi Dry Cell Battery Berbahan Dasar Solid Brown Electrolyte Mix Lumpur Lapindo Sidoarjo”.
Ide ini berawal dari keprihatinan Aji dan kawan-kawannya terkait luapan lumpur panas akibat pengeboran gas PT Lapindo Brantas di Kelurahan Siring, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, tahun 2006. Hal itu menimbulkan kerugian besar dan penderitaan masyarakat.
Nama Lusi pada baterai itu diambil dari kata lumpur Sidoarjo. Hal itu untuk mengingatkan orang terhadap asal bahan baterai itu. Mereka membuat baterai karena merupakan sumber energi paling praktis dan murah saat ini.Lusi dry cell battery dibuat menggunakan bahan baku lumpur Sidoarjo dan beberapa zat aditif, antara lain natrium silikat, amonium fosfat, natrium klorida, dan alumina. Dan kekuatan dan daya tahan baterai tersebut lebih tahan lama hingga 10% dari baterai lainnya.
Jadi, lumpur panas lapindo berasal dari perut bumi ini termasuk energi panas bumi yang mempunyai unsur-unsur logam dapat juga menjadi energi pengganti atau dijadikan energi alternatif. Seperti pembuatan baterai di atas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Upaya penanggulangan lumpur lapindo adalah:
  1. Dengan membuat tanggul untuk membendung area genangan lumpur. 
  2. Membuang lumpur panas Sidoardjo langsung ke Kali Porong. Keputusan itu dilakukan karena terjadinya peningkatan volume semburan lumpur dari 50,000 meter kubik per hari menjadi 126,000 meter kubik per hari
  3. Pembentukan lahan basah (rawa) baru di kawasan pantai Kabupaten Sidoardjo
Sampai sekarang banyak orang yang mencari cara untuk menghentikan semburan lumpur panas yang terjadi di Jawa Timur tersebut sampai sekarang.

Referesi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Banjir_lumpur_panas_Sidoarjo#Perkiraan_penyebab_kejadian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar